Listrik, Kawan Kecilku, Besar Pengaruhmu (Cerpen)

Listrik, Kawan Kecilku, Besar Pengaruhmu

                Aku tinggal di negeri lain. Entahlah namanya, Ibuku tidak pernah memberi tahuku – dan sejujurnya, aku juga tidak mencari tahu. Tanah kelahiranku ini bukan yang terindah, yang tidak akan pernah bisa menyaingi kelap-kelip London yang romantis. Tanahku juga bukan yang terkaya, tidak akan pernah bisa menyaingi ragam flora dan fauna di Indonesia – negeri yang selalu diceritakan Ibuku.

Aku senang melihat keluar jendela saat sang surya telah tenggelam, melihat semua kelap-kelip di atas langit sana. Jangan beri tahu Ibuku, tapi aku juga sangat suka bermain dengan kawanku – yang selalu menemaniku saat aku merasa ada monster di bawah kasurku! Ia sangat kecil, hanya segenggam tangan mungilku. Tapi sungguh, ia bercahaya lebih terang dari semua kelap-kelip di langit sana.

Listi, hari ini Ibu lupa membeli minyak. Aku harus tidur gelap-gelap lagi,” curhatku pada kawan bercahayaku itu. Aku menghela napas panjang. Listi tidak pernah menjawabku, namun ia akan berputar-putar di atas tanganku dan dengan gaya khasnya, ia berhasil membuatku mengangkat ujung bibirku.

Di negeriku, kami tidak pernah mengenal listrik. Bagaikan negeriku dilupakan oleh dunia. Ibu pernah bercerita tentang listrik kepadaku, “Listrik itu benar-benar membuat hidup kita enak dan serba cepat,” ucapnya sambil menyalakan lampu minyak tua kami. Sungguh, waktu itu aku bertanya-tanya tentang itu.

Aku bertanya pada Listi, “Lis, apa listrik bisa disentuh, ya? Listrik itu seperti apa, ya?” tanyaku kepada Listi, penasaran. Ia menjawabku dengan cahaya yang semakin terang dari tubuh mungilnya. Lalu aku terkekeh, “Mungkin kamu itu bayi listrik, Lis!

*  *  *

            Entah sejak kapan, aku mulai bertanya-tanya akan Listi. Dulu, aku menganggap Listi sebagai kunang-kunang yang selalu kubaca di buku sekolahku. Namun, sekarang aku ragu. Listi tidak mempunyai sayap. Lagipula, Listi selalu tiba-tiba muncul dihadapanku – yang selalu berhasil membuatku terkejut dulu. Tapi, aku memendam pertanyaan itu dalam hatiku yang terdalam.

Hari ini, aku tidak melihat Listi. Sungguh aneh. Biasanya ia akan datang ke jendela kamarku dan kami akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bercanda gurau – atau lebih tepatnya monolog – bersama sampai aku mendengarkan langkah kaki Ibuku yang semakin mendekat.

Lis,” bisikku pelan. Aku masih tidak melihatnya. Yah, mungkin hari ini ia sibuk, pikirku. Sehingga aku menutup mataku, menunggu sang surya.

Keesokan harinya, Ibuku bercerita tentang padamnya listrik se-dunia. Sejak kemarin malam, dunia menjadi sangat gelap. Sejujurnya, aku tidak peduli. Toh, aku dan keluargaku sudah terbiasa. Ibu bercerita tentang banyaknya orang yang kesulitan karenanya, dan memintaku untuk mendoakan mereka. Lalu aku mengangguk, mengikuti nasihat Ibuku.

Hari itu, aku semakin yakin akan teoriku tentang Listi, dan sejak hari itu, aku tidak melihatnya lagi.

*  *  *

            Sejak aku tidak takut akan “Monster di bawah kasurku” lagi, aku semakin tidak pernah melihatnya lagi. Entahlah sudah berapa tahun sejak saat itu. Mungkin sudah 20 tahun lebih.

Aku percaya bahwa Listi hanyalah mimpi masa kecilku belaka, yang tidak ingin ketakutan saat malam tiba. Aku harus melupakannya, pikirku. Namun kadang, aku masih percaya akan Listi. Mungkin aku sudah tidak bisa bermimpi lagi, oleh karena itu aku tidak pernah melihatnya. Mengingatnya kembali, aku terkekeh akan teori polosku, “Listi si bayi listrik.”

Hidupku di Indonesia – negeri yang diceritakan Ibuku – sangat menyenangkan. Pertama karena keberadaan listrik, terutama di ibukota. Kedua, karena hidupku semakin santai karena keberadaannya. Namun, aku sering kali prihatin. Jika tidak ada perubahan, mungkin listrik bisa saja punah. Mungkin suatu saat aku dan anakku tidak akan bisa melihat Listi.

Sehingga aku menghela napas panjang dan berbisik dalam hati, “Jika ada kemauan, pasti akan ada perubahan. Aku percaya pasti akan ada  harapan, agar semakin jaya negeriku dan Indonesiaku.”

 Angela Elviani

Tim Jurnalistik SMPK 6 PENABUR