Putri Pinang Masak (Cerpen)

Putri Pinang Masak

            Pada zaman dahulu  kala di sebuah desa kecil di Sumatera, hiduplah seorang gadis cantik bernama Putri Seruno. Putri ini sangat terkenal dengan kecantikannya. Kulitnya berwarna putih kemerah-merahan bagaikan pinang yang baru masak. Oleh karena itu, ia dijuluki Putri Pinang Masak. Sayangnya ia memiliki sifat yang tidak secantik dirinya. Ia memiliki sifat yang serakah, tamak, dan haus akan harta benda. Pada suatu hari, berita mengenai kecantikan Putri Pinang Masak terdengar sampai ke raja di timur. “Para prajuritku!! Saya memerintahkan kalian untuk mencari tahu di mana tempat tinggal Putri Pinang Masak itu dan berikanlah surat lamaran ini kepada dia,” perintah Raja kepada prajuritnya. “Baik rajaku,” ucap para prajurit serentak. Para prajurit raja langsung berpencar ke seluruh wilayah yang ada di pulau Sumatera.

Setelah tiga bulan, para prajurit belum juga menemukan tempat tinggal Putri Pinang Masak. Pada suatu hari, ada seorang gadis desa yang melihat para prajurit kerajaan sedang berjalan di pasar. Gadis desa itu langsung mendekati salah satu dari prajurit kerajaan. Gadis desa itu langsung bertanya kepada seorang prajurit “Permisi pak, saya ingin tanya bapak sedang apa datang ke desa ini?” Prajurit itu langsung menjawab, “Saya sedang mencari putri pinang masak atas perintah raja. Apakah kamu tahu dimana tempat tinggalnya?” Mendengar hal itu gadis desa itu langsung terkejut dan menjawab,”Maaaaaaf pak saya tidak tahu.” Mendengar jawaban gadis desa itu, prajurit itu langsung pergi meninggalkannya.

Gadis desa itu ternyata adalah sahabat karib Putri Pinang Masak. Setelah melihat prajurit itu pergi jauh dari pasar, ia langsung menuju ke sawah orangtua Putri Pinang Masak. Saat sampai di sawah orangtua Putri Pinang Masak, gadis itu langsung memberitahu hal itu kepada orangtuanya. Orangtuanya langsung memanggil putrinya itu,”Putriku!!! Cepatlah datang ke sinii!!” Putri Pinang Masak langsung menuju ke sawah dengan terburu-buru setelah mendengar panggilan dari orangtuanya. “Putriku, cepatlah kamu membereskan barang-barangmu dan pergi ke tempat pamanmu yang berada di hutan dan pada sore ini kau harus mulai pergi ke tempat pamanmu,” perintah ibunya kepada putri kesayangannya itu. Putri Pinang Masak menganggukkan kepalanya dan langsung pergi untuk mengemas barang barangnya.

Hari pun akhirnya menjelang sore, Putri Pinang Masak langsung memulai perjalanannya menuju rumah pamannya itu yang berada di hutan. Orangtuanya dengan sangat sedih mengantar putri kesayangannya sampai ke depan pintu gerbang desa. “Anakku, berikanlah surat ini kepada pamanmu jika kau sudah sampai di sana. Ingatlah janganlah kau membuka surat itu sedikit pun,” ucap ayahnya kepada putrinya. Putri Pinang Masak berkata,”Baik ayah, saya akan memberikan surat ini kepada paman.” Putri Pinang Masak langsung pergi meninggalkan desa sambil melambaikan tangannya kepada orangtuanya.

Di perjalanan menuju hutan, ia merasa sangat lapar dan haus. Ia pun melihat sebuah gubuk dan mengetuk pintu gubuk itu, “Tok..tok.. permisi apakah ada orang?” Tidak ada jawaban yang terdengar dari gubuk itu, kemudian melihat ke jendela gubuk itu dan melihat ada banyak makanan dan air di gubuk itu. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung masuk ke dalam gubuk itu. Kemudian ia langsung makan dengan lahap dan minum air sebanyak mungkin. Ia pun tidak lupa untuk menyisakan sebagian air dan makanan untuk bekal perjalanannya.

Setelah makan dan minum dengan puas, ia pun langsung melanjutkan perjalanannya menuju rumah pamannya di hutan. Dalam perjalanannya menuju ke hutan, ia melihat sekelompok prajurit sambil memantunkan sebuah pantun,

Pergi ke pasar beli leci

           Kuda delman berlari menuju ke sini

           Melihat prajurit menuju ke sini

          Segeralah aku pergi bersembunyi.

Bagaimana ini, kita belum menemukan tempat tinggal dan keberadaan dari Putri Pinang Masak? Padahal kita sudah mencarinya ke seluruh pulau Sumatera,” ucap seorang prajurit kepada prajurit lain. “Jika kita tidak memberikan surat ini kepada putri pinang masak, kita akan dihukum oleh raja,” ucap seorang prajurit.

Setelah mendengar obrolan dari para prajurit itu, ia langsung pergi dengan terburu-buru menuju ke hutan. Karena terlalu terburu-buru, salah satu dari para prajurit melihat seorang gadis yang sangat elok berlari. Prajurit itu berteriak,”Tunggu!! Berhenti!” Mendengar prajurit itu berteriak, para prajurit langsung mengejarnya pergi ke hutan. Kemudian putri pinang masak berhenti berlari dan langsung melompat ke semak-semak belukar. Para prajurit tetap berlari menuju ke perkampungan penduduk dan terus mencari wanita itu. Sementara itu, Putri Pinang Masak terus menunggu hingga gerombolan prajurit itu pergi.

Setelah gerombolan prajurit itu pergi, putri pinang masak langsung melanjutkan perjalanannya ke hutan. “Sepertinya itu adalah gadis yang sedang dicari oleh raja. Saya harus mengikuti gadis itu pergi,” ucap salah satu prajurit sambil mengikuti Putri Pinang Masak. Ketika berada di hutan, Putri Pinang Masak berkata dalam hati sambil menengok ke belakang,”Sepertinya ada yang mengikutiku dari belakang tapi siapa ya?” Prajurit itu langsung bersembunyi di balik pohon ketika putri pinang masak berbalik ke belakang.

Beberapa hari kemudian, ia sampai di rumah pamannya yang berada di tengah hutan itu. Ia langsung mengetuk pintu rumah pamannya itu, “Tok..tok..tok.. Apakah ada orang di dalam? “Tiba-tiba keluarlah seorang pria yang separuh baya dan berkata,”Siapakah kau ini anakku? Mengapa kau ke sini?” Kemudian Putri Pinang Masak berkata,”Saya bernama Putri Seruno, Paman. Saya disuruh datang ke sini oleh orangtua saya.” Suasana menjadi hening sejenak, pria itu langsung berkata,”Oh kamu adalah keponakanku yang bernama Putri Seruno itu ya. Sekarang paman ingat siapa kamu.” Pria itu langsung mempersilahkan Putri Seruno masuk ke rumahnya.

Ketika duduk di ruang tamu pamannya, Putri Pinang Masak melihat ke jendela. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki yang meletakkan sebuah gulungan surat di depan rumah pamannya. Ia pun langsung membuka pintu dan melihat gulungan surat itu sambil berkata dalam hati,”Orang itu siapa ya? Apakah dia adalah prajurit istana yang ingin menangkapku? Mengapa dia menaruh gulungan ini di depan pintu?” Putri Pinang Masak langsung membuka surat itu dan membaca surat itu dalam hati,

Kota Ambon ada di Maluku

   Kota Denpasar ada di Bali

   Percayalah pada diriku

   Hanya engkau pujaan hatiku

                        Agar badan tidak kaku

                        Seringlah minum jamu

                        Untuk buktikan ucapanku

                        Maukah kau menikah denganku?

Dari Raja Timor

Putri Pinang Masak sangat terkejut membaca surat itu karena ia sama sekali tidak berpikir untuk berkeluarga sedini ini. Pada malam itu, Putri Pinang Masak tidak bisa tidur karena terus memikirkan isi surat itu. Tiba-tiba munculah sebuah ide yang menakjubkan, kemudian ia menulis surat kepada raja,

Pergi ke hutan melihat harimau

  Sambil berjalan memakan durian

  Jika raja ingin menikahiku

  Patuhilah semua syarat yang kuberikan

                        Gadis cantik pergi ke papandayan

                        Waktu teruslah berjalan

                        Datanglah ke rumah di tengah hutan

                        Terimalah syarat yang kuberikan.”

Keesokkan harinya, ia mengikatkan surat itu kepada seekor burung beo dan menyuruhnya mengantarkan surat itu kepada raja.  Kemudian burung itu langsung terbang menuju istana raja. Dua hari telah berlalu, raja sangat sedih karena tidak ada balasan surat dari calon permaisurinya yang tercinta. Tiba-tiba, saat raja memandang keluar jendela ia melihat seekor burung beo yang membawa sebuah gulungan surat. Raja pun dengan seketika merasa sangat bahagia. Akhirnya burung itu hinggap di jendela kamar raja. Raja pun langsung melepas ikatan surat yang berada di kaki burung itu dan membacanya sambil memberi makan burung itu.

Saat raja selesai membaca surat itu, raja langsung pingsan karena terlalu bahagia. Setelah raja siuman, ia langsung memerintah pengawalnya,”Pengawal!! Siapkanlah kereta kudaku dan segala perlengkapan untuk pergi ke sebuah rumah yang terletak di tengah hutan besok.” Pengawalpun langsung bergegas pergi sambil berkata,”Baik rajaku.” Pada malam itu, raja sampai tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk bertemu dengan calon permaisurinya itu.

Keesokkan harinya, para dayang raja mengetuk pintu raja untuk membangunkan raja,”Tok..tok..tok..” Tetapi dari kamar raja tidak ada jawaban sedikitpun.  Ketika para dayang masuk ke kamar raja, para dayang langsung merasa sangat terkejut dan berkata,”HAHH!!!!! Di mana raja? Apakah raja diculik atau dibunuh?” Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar kamar raja. Salah satu dayang melihat keluar dan ternyata itu adalah pengawal raja. Kemudian pengawal raja itu berkata,”Saya ingin menyampaikan pesan ini kepada kalian dari raja bahwa raja sudah bangun sejak dini hari tadi dan sudah berangkat untuk menemui calon permaisurinya.” Kemudian dayang itu memberitau pesan itu kepada para dayang. Setelah mendengar pesan itu para dayang berkata,” Syukurlah raja baik-baik saja.”

Pada saat itu juga, raja sedang berada di pinggir hutan. Raja langsung memerintah kusir kerajaan,

Buah kelapa jatuh di kepala

 Menyebrangi Selat Sunda dengan kapal feri

Wahai kusir kuda!

Cepat!! Perintahkan kudamu berlari lebih cepat lagi.”

Kusir langsung menyuruh kudanya dan berkata,”Kudaku! Apa kau tidak mendengar perintah raja? Berlarilah lebih cepat!” Kuda itu langsung berlari dengan sangat cepat.

Beberapa jam kemudian, raja telah sampai di tengah hutan. Dengan sangat gembira, ia memberi upah kepada kusir kuda itu. Kemudian raja melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Raja mencari rumah calon permaisurinya di tengah hutan itu. Setelah raja keliling di tengah hutan itu, raja tidak melihat satu pun rumah di sana. Kemudian raja berkata kepada para pengawalnya,”Para pengawalku, marilah kita beristirahat sebentar di bawah pohon ini.” Para pengawal menjawab,”Baik raja.” Kemudian mereka pun beristirahat di bawah pohon itu.

Saat raja tidur, raja bermimpi bahwa ia berada di tengah hutan itu sendirian. Raja mengelilingi hutan untuk mencari rumah calon permaisuri idamannya itu. Tiba-tiba muncullah seorang kakek tua dan berkata,”Tuan, sedang apa kau disini?” Kemudian raja menjawab,”Kek, saya sedang mencari sebuah rumah yang dihuni oleh putri pinang masak. Apakah kakek tahu dimana rumah itu?” Kemudian kakek itu hanya tersenyum dan melihat ke arah sebuah pohon yang sangat besar dan tua. Beberapa saat kemudian, kakek itu langsung menghilang. Raja merasa sangat heran kepada kakek itu dan terus berpikir.

Tiba-tiba ada sehelai daun yang jatuh ke wajah raja. Raja pun terbangun dari mimpinya yang sangat aneh itu dan berkata di dalam hatinya,”Apakah mimpi itu merupakan petunjuk untuk mencari rumah calon permaisuriku itu?” Kemudian raja berkata pada para pengawalnya,”Para pengawalku, marilah kita lanjutkan pencarian kita.” Para pengawal dengan serentak menjawab,”Baik rajaku.” Raja dan para pengawalnya sudah mengelilingi tengah hutan itu. Kemudian tibalah raja di sebuah tempat di tengah hutan itu. Raja berhenti dan berkata dalam hati,”Bukankah ini adalah tempat dimana kakek itu berbicara padaku?” Kemudian raja langsung mengingat mimpi itu. “Terakhir kali saya bertanya pada kakek itu. Kakek itu hanya tersenyum dan melihat ke arah pohon yang di sebelah sana,” ucap raja dalam hati sambil melihat ke arah pohon itu.

Kemudian raja langsung memerintah pengawalnya,”Para pengawalku! Cobalah kalian mencari rumah calon permaisuriku di balik pohon yang besar itu!” Setelah mendengar perintah raja, para pengawal menjawab,”Baik rajaku.” Kemudian mereka langsung berpencar menuju balik pohon itu. Salah satu dari pengawal itu melihat ada sebuah jalan yang terletak tepat di balik pohon itu. Kemudian pengawal itu langsung mengikuti jalan itu dan sampai ke depan sebuah rumah. Pengawal itu dengan sangat gembira kembali dengan membawa berita ini kepada raja. “Rajaku, saya telah berhasil menemukan rumah calon permaisurimu.” Dengan sangat gembira, raja mengeluarkan sekantong koin emas untuk pengawalnya itu dan berkata,”Kerja bagus pengawalku, sekarang antarkan saya ke depan rumah itu.” Pengawal itu langsung menunjukkan jalannya kepada raja.

Hari menjelang malam, matahari telah terbenam di barat. Akhirnya mereka sampai di depan rumah calon permaisuri raja. “Tok..tok..tok..” raja mengetuk pintu rumah itu dengan sangat gembira. Tiba-tiba keluarlah seorang gadis yang sangat cantik. Raja kemudian bertanya,”Wahai gadis yang cantik, apakah engkau adalah Putri Pinang Masak?” Kemudian gadis itu tersenyum dan menjawab,”Benar sekali. Siapakah engkau? Mengapa kau datang ke rumahku ini?” Raja menjawab,”Akulah Raja Timor yang telah mengirim surat lamaran itu kepadamu. Syarat apakah yang harus saya lakukan? Saya akan menurutinya demi menikah denganmu.” Putri Pinang Masak tersenyum dan berkata,”Kau harus membangun sebuah istana yang sangat megah dan indah di negeri timor mu. Tetapi istana itu harus sudah selesai ketika ayam sudah berkokok. Jika istana itu belum selesai, maka semua harta kerajaanmu dan tahtamu akan menjadi milikku.” Karena sangat mencintai Putri Pinang Masak, raja menyanggupi syaratnya itu.

Beberapa saat kemudian, raja langsung kembali dan memerintah para pengawalnya,”Pengawalku! Bersiap-siaplah kita akan segera kembali ke negeri kita untuk membangun sebuah istana mewah dan indah untuk calon permaisuriku yang tercinta.” Kemudian para pengawal langsung bersiap-siap dan langsung menaiki kuda mereka. Di dalam perjalanan, raja terus memikirkan konsep istana yang akan dibuatnya untuk calon permaisurinya itu.

Ketika sudah sampai di kerajaannya, raja langsung mengumpulkan rakyatnya dan para ahli pertukangannya. Tidak hanya itu, raja juga menyewa dan membayar mahal para ahli pertukangan dari luar negeri untuk membantunya. Itu tidak menjadi persoalan bagi raja yang kaya raya ini untuk membayar semua ahli pertukangan dan rakyatnya, karena ia memiliki banyak sekali koin emas dan harta benda.

Rakyatku dan para ahli pertukanganku, saya memerintahkan kalian semua untuk membangun sebuah istana yang sangat megah dan indah dalam waktu semalam agar saya dapat menikahi seorang gadis cantik,” perintah raja kepada rakyatnya dan para ahli pertukangannya. Kemudian rakyat dan para ahli pertukangan dengan sangat gembira berkata,”Baik rajaku! Hidup raja timor!” Mereka langsung mulai bekerja dan mengumpulkan bahan bangunan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Para ahli pertukangan, rakyat, bahkan raja dan para prajuritnya ikut serta dalam membangun istana yang megah dan indah itu untuk calon permaisurinya yang tercinta. Raja, rakyat,para prajurit kerajaan, dan para ahli pertukangan terus bekerja dan saling bekerja sama untuk membangun istana yang sangat megah dan indah. “Wahai rakyatku, para ahli pertukanganku, dan para prajuritku yang kucintai, mari kita percepat pembangunan istana karena sebentar lagi hari sudah menjelang pagi,”  ucap raja kepada semua orang yang ikut serta dalam membantu membangun istana untuk Putri Pinang Masak.

Hari menjelang pagi, istana itu hanya tinggal dilicinkan saja. Putri Pinang Masak menjadi sangat khawatir. Ia terus mencari akal untuk menggagalkan rencana raja untuk menyelesaikan istana untuknya itu. Beberapa saat kemudian, ia teringat bahwa pamannya memiliki seekor ayam jantan di halaman belakang rumah pamannya. Tiba-tiba munculah sebuah ide yang sangat cemerlang untuk menggagalkan rencana pembangunan istana itu. Di dalam hati Putri Pinang Masak ia terus berpikir dan berkata,“Bagaimana jika aku membangunkan ayam jantan yang berada di halaman belakang rumah? Tapi bagaimana caranya ya?” Kemudian ia ingat dengan perkataan ibunya di desa bahwa, ayam akan terbangun jika ada cahaya.

Sementara itu, istana yang dibangun untuk Putri Pinang Masak hanya tinggal sentuhan terakhir. Putri Pinang Masak dengan sangat terburu-buru pergi ke halaman belakang rumah pamannya dan membawa sebuah lampu. Kemudian ia menaruh lampu itu di tempat tidur ayam pamannya. Beberapa saat kemudian, ayam itu mulai berkokok. Kokok ayam itu sudah terdengar sampai di kerajaan timor.

Raja, rakyat,para prajurit, dan para ahli pertukangan sedang melicinkan istana untuk Putri Pinang Masak. Ketika kokok ayam mulai terdengar, raja merasa sangat kecewa. “Rakyatku, para prajuritku, dan para ahli pertukanganku, mulai saat ini hentikan pembangunan istana ini. Saya akan hidup sebagai rakyat biasa dan tidak akan hidup sebagai raja lagi.” Rakyat, para prajurit,dan para ahli pertukangan merasa sangat sedih dan kecewa. Salah satu dari seorang rakyat berkata kepada raja,”Raja, tapi perjanjian itu mengatakan bahwa istana ini harus sudah selesai ketika pagi hari. Namun, sekarang belumlah pagi sekarang masih malam hari.” Kemudian raja dengan bersedih berkata,”Perjanjian itu sebenarnya adalah setelah ayam berkokok. Istana ini harus sudah selesai.

Tiba-tiba Putri Pinang Masak datang ke istana yang mewah dan indah itu. Ia melihat semua rakyat, para prajurit, dan para ahli pertukangan merasa sangat sedih. Kemudian raja melihat kedatangan Putri Pinang Masak dan raja langsung memberikan mahkota yang ia gunakan kepada Putri Pinang Masak. “Semua rakyatku dan para prajuritku, sekarang kalian akan berada di bawah pemerintahan Putri Pinang Masak,”ucap raja kepada rakyatnya dan para prajuritnya.

Putri Pinang Masak tersenyum kepada raja dan berkata kepada rakyat dan para prajurit kerajaan,”Wahai semua rakyatku dan para prajuritku, aku bersumpah akan membuat kerajaan ini lebih makmur dari pemerintahan sebelumnya.” Rakyat dan para prajurit kerajaan langsung berteriak,”HIDUP RATU PUTRI PINANG MASAK!!!! HIDUP!!”  Putri Pinang Masak berkata,”Semua rakyatku dan para prajuritku, sekarang selesaikanlah pembangunan istanaku ini dan saya akan tinggal di istana ini.” Kemudian seluruh rakyat dan para prajurit langsung melanjutkan pekerjaannya untuk melicinkan istana itu.

Hari menjelang sore, istana itu akhirnya telah jadi. Putri Pinang Masak langsung menempati istana itu dengan hati yang sangat gembira. Keesokan harinya, Putri Pinang Masak mulai melaksanakan tugasnya sebagai seorang penguasa. Ia menjadi sangat terbebani karena tugas kerajaan.

Sejak saat itu, kerajaan itu hidup di bawah pemerintahan seorang ratu yang sangat cantik. Negeri itu terkenal sampai ke luar negeri dengan nama negeri pinang. Pinang-pinang dalam bahasa jawa disebut dengan jambe. Zaman terus berlalu, lama-kelamaan nama kota itu berubah menjadi kota Jambi.

Putri Pinang Masak terus memimpin kota Jambi dan mencapai kejayaannya. Suatu hari Putri Pinang Masak yang berwajah elok itu ingin sekali berkeluarga. Ia memutuskan untuk membuka sebuah sayembara untuk calon suaminya itu. “Prajuritku, sekarang siapkanlah sebuah sayembara untuk mencari pria untuk menjadi suami saya,” ucap Putri Pinang Masak kepada prajuritnya. Prajurit menjawab,”Baik ratuku.”

Beberapa hari kemudian, sayembara dimulai. Banyak sekali pemuda yang mengikuti sayembara itu karena kecantikkan dari Putri Pinang Masak. Di sayembara itu, mereka harus memanah sebuah apel dengan tepat dan memanjat pinang yang sangat licin dan tinggi. Kemudian sayembara ini telah dimulai, dan tersisa dua orang. Salah satu dari mereka adalah seorang sultan yang tertarik dengan Putri Pinang Masak karena parasnya yang begitu elok. Selain sultan itu, ada seorang pemuda yang bernama Sesungging yang tertarik dengan Putri Pinang Masak karena cintanya yang begitu besar pada Putri Pinang Masak.

Pada saat perlombaan terakhir yaitu memanjat pinang yang sangat licin dan tinggi itu, terjadi sebuah tragedi yang sangat besar. Sultan yang tertarik pada putri pinang masak karena nafsunya itu, jatuh dari pinang itu. Sultan itu tergeletak di tanah, sedangkan  pemuda itu sampai di tempat tertinggi dari pinang itu. Pemuda itu memenangkan sayembara itu dan tiba-tiba ada seorang gadis cantik datang ke tempat itu. Ternyata gadis cantik itu adalah ratu Putri Pinang Masak. Kemudian pemuda itu berkata sambil berlutut,

Pergi ke Gunung Salak menanam salak

   Melihat bebek berenang di kali

   Wahai pujaan hatiku yang cantik

   Saya sudah memenangkan sayembara ini

                                    Mengendarai mobil ke Gunung Semeru

                                    Mencuci baju di Danau Toba

                                    Maukah kau menikah denganku?

                                    Aku berjanji akan membuat hidupmu bahagia.”

Kemudian Putri Pinang Masak dengan tersipu malu menjawab,

Pergi ke sungai menangkap ikan

  Air terjun mengalir dari hulu

  Wahai pria yang gagah dan tampan

  Aku terima lamaran darimu.

Beberapa hari kemudian, mereka berdua melangsungkan pernikahan yang sangat megah di istana. Mereka menikah dengan sangat bahagia dan hidup bahagia selamanya.

Joycelyn H.

Siswi Kelas 8C SMPK 6 PENABUR