Aku Bersyukur Bertemu Denganmu, Irene (Cerpen)

Aku Bersyukur Bertemu Denganmu, Irene

Ingin sekali aku katakan, “Aku pulang”. Tapi itu mustahil. Mustahil bagiku. Seperti boneka, aku hanya dapat melihat termenung, tak dapat berbuat banyak dan tak dapat berbicara bebas seperti selayaknya anak-anak lain. Betul, hidupku hanyalah bagaikan sebuah boneka.

Mula-mula, hidupku sangat berbeda 180 derajat. Tapi semua itu berubah, seperti pergantian musim; semuanya terjadi begitu cepat di hadapanku. Saat itu, aku hanya dapat menangis terisak. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Yang kulihat adalah lautan api yang membakar apapun yang ia sentuh.

Aku masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Orang tua dan saudara-saudariku yang tertawa bahagia bersama sehari sebelum hari itu. Siapa sangka, keesokan harinya, tepat pada hari ulang tahunku yang ke-13, aku kehilangan segalanya. Orang tuaku luput termakan si jago merah. Saudara dan saudari dariku yang saat itu bersama kedua orangtuaku pun luput habis oleh sang jago merah yang membara itu. Ironis sekali, aku selamat hanya karena gonggongan anjing peliharaanku – yang tentu saja menyebabkan kematiannya sendiri. Perasaan bersalah selalu menyelubungi diriku, sampai detik ini juga.

Perkenalkan, namaku Irene, seorang gadis yang kehilangan segalanya hanya dalam satu hari. Aku masih dapat mengingat hari-hari yang kulewati bersama kakakku. Ia selalu memanggilku dengan begitu ceria, “Rene, Rene!!” ucapnya. Seperti CD rusak, setiap malam aku selalu mengingatnya dengan sangat jelas.

Saat ini, aku tinggal di rumah pamanku – satu-satunya keluarga yang kukenal. Ia adalah seorang dokter psikiater yang merawatku sejak hari itu. Ia sangat baik padaku dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Setiap hari hanya kulewati dengan termenung. Aku selalu menatap keluar jendela dari atas kursi rodaku.

Irene, jangan hanya diam,” ucap seorang gadis yang mendorong kursi rodaku. Jari-jemariku menyusuri kaca dingin itu. “Mikhal,” aku menatapnya dengan tatapan kosong, “Pergilah, aku tidak apa-apa di sini sendirian. Aku sudah terbiasa,” senyuman kecil menghiasi wajahku.

Di balik jendela itu, sebenarnya ada taman hijau yang luas milik pamanku. Aku tahu, pasti Mikhal bosan denganku, jadi aku tidak ingin merepotkannya dan aku juga tidak ingin melihatnya sedih. Hanya Mikhal yang mau menemaniku setiap hari; dia adalah sahabat terbaik yang kupunya. Padahal, sudah beberapa tahun kita berpisah sekolah.

Oh ya, guruku meminta kami menjelaskan apa itu hidup menurutku,” ia masih bersikeras untuk tetap di sisiku. Aku sangat menghargainya, tapi sebelum aku dapat berkata apa-apa, ia melanjutkan perkataannya, “Aku berkata dengan mudahnya, hidup adalah suatu petualangan yang amat sangat panjang.” Ia tersenyum ke arahku.

Benarkah? Kenapa kamu berkata demikian?

Ia tertawa, “Ya… menurutku petualangan itu menemukan sesuatu yang baru. Selama 14 tahun aku hidup, aku sudah menemukan banyak hal. Salah satunya adalah kamu.”

Terkadang, aku sangat terkejut oleh perkataannya, cara ia berkata-kata sama sekali tidak mencerminkan usianya. Ia mengelus rambut pirangku, dengan suara lembut ia membisikkan sesuatu di telingaku. Mungkin, sejak musibah itu, inilah pertama kalinya aku dapat kembali tersenyum lebar seperti dulu. Mata cokelat marunku dapat memancarkan sinarnya sekali lagi, sama seperti dulu. Hari ini, ada sesuatu yang mengubahku, dan ‘sesuatu’ itu pastinya adalah Mikhal.

*   *   *

            Kini, aku punya keberanian untuk datang ke sekolah, meskipun dengan kursi roda. Memang sedikit heboh, tapi teman-teman mau menerimaku. “Irene,” suara guruku yang nyaring terdengar itu membuat semua orang menoleh ke arahnya. “Jelaskan arti hidup menurutmu.”

Perlahan, aku menggerakan kursi rodaku ke depan kelas. Sungguh menegangkan, melihat semua orang menatapku dengan begitu serius. Mikhal tidak bersamaku, jadi aku harus berusaha sendiri kali ini.

Aku menghela napas panjang dan tersenyum, “Menurutku, hidupku adalah sebuah penderitaan – itu sebelum aku bertemu dengan sahabatku. Sekarang, menurutku hidup adalah anugerah.”

Kenapa demikian?” Tanya guruku.

Karena aku punya seorang teman. Ia mau menemaniku jalan bersama, meskipun aku cacat sekalipun. Ia mendorong kursi rodaku, ia menemaniku, ia membuatku tertawa, ia membuatku berdiri lagi – memang bukan dengan dua kakiku, tapi aku telah berdiri dan bangkit dari diriku yang dulu. Aku bukanlah gadis yang hanya menatap keluar jendela lagi.

*   *   *

“Aku tidak bisa mengerti apa yang kau rasakan, tapi aku tahu. Irene, kau bukan berada di akhir perjalananmu, kau baru berada di checkpoint perjalananmu. Ketahuilah, Irene, aku bersyukur dapat bertemu dan menjadi sahabatmu.” Itulah yang ia bisikkan di telingaku.

Angela Elviani

Tim Jurnalistik SMPK 6 PENABUR