Tragedi 14 Januari 2016

Jakarta, 14 Januari 2016.

Hari itu, semuanya terasa sangat normal. Terlalu normal. Langit biru masih mewarnai pandangan kita, awan seputih kapas pun masih mengiringi langit biru itu. Masih bisa kudengar canda tawa murid-murid di sekolahku. Baik itu nyanyian dari gadis-gadis yang mengikuti para idola yang diidamkan maupun anak lelaki yang bermain ria di lorong dan ujung ruangan. Terlihat juga sekumpulan siswa dalam satu lingkaran sambil melantunkan lagu permainan. Yah, sangat normal seperti biasanya. Oh astaga, tapi siapakah yang akan mengharapkan adanya sebuah tragedi pada hari itu?

Pagi itu, aku masih bisa melahap makan siangku dengan tenangnya serta menikmati setiap kegiatan di sekolahku. Yah, meskipun diganggu oleh kegaduhan dari radio sekolah yang memberitahukan teman-temanku akan dijemput orangtuanya. Sedikit demi sedikit teman-temanku keluar dari kelas mereka, membopong tas ransel berat mereka kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing. Sungguh aneh.

Aku sangat penasaran kemudian aku bertanya kepada teman-temanku. “Hei, kenapa ribut sekali sih?” dan pertanyaanku dijawab dengan terangkatnya kedua bahu temanku. Kami tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Tak lama kemudian, rasa penasaranku terbayar sudah. Mulai dari radio, berita,  dan semua postingan di media sosialku memberitakan bahwa telah terjadi ledakan bom bunuh diri dan penembakan dari teroris di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. “Kasihan sekali”, pikirku. Tidak pernah kuduga peristiwa ini akan terjadi. Serangan di Thamrin memakan korban jiwa dan luka-luka.  Selain itu, peristiwa tersebut mengakibatkan kacaunya jadwal ayahku dan jadwal penerbangan kakekku juga tertunda. Satu tragedi ini berantai ke tragedi lain.

Aku semakin heran ketika kudengar ayahku menceritakan ketidakpedulian masyarakat Jakarta. Mereka lebih terkesan apapun dilakukan demi eksistensi, uang, dan aku bahagia. Lihatlah, banyak orang sempat-sempatnya selfie di TKP. Pedagang sate masih bisa berjualan meski situasi saat itu sangat mencekam. Bahkan ada anggota TNI yang sempat jajan di salah satu pedagang asongan. Ironi memang tapi inilah potret negeriku. (Angela Elviani/MM)

Angela Elviani

Tim Jurnalistik SMPK 6 PENABUR