Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun (5S) di SMPK 6 PENABUR

Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun

Pencerah Hari Peserta Didik

 

Selamat pagi, Pak! Selamat pagi, Bu!” para murid berlarian menghampiri. Dengan seberkas senyuman lebar di bibir mereka, mereka mengucapkan salam hangat. “Selamat pagi!” ucap mereka. Matahari tak kunjung menunjukkan sinar hangatnya, masih sejuk dan angin pagi masih berhembus sepoi-sepoi.

          Entahlah, mendengar sapaan dan melihat senyuman lebar mereka membuat suasana lebih hangat, menghiraukan dinginnya angin pagi. Tanpa menunggu lama, terdengar jawaban yang dinanti-nanti: “Selamat pagi juga!” diiringi senyuman lebar.

Suka. Aku begitu menyukai dan menikmati kegiatan ini,” ucap Pak Ferry, karyawan Tata Usaha di SMPK 6 PENABUR, “Karena 5S merupakan langkah menjalani aktivitas.”

Pertukaran sapaan terus diulang dan diulang, sampai seorang siswa lelaki yang memakai pakaian sedikit kumuh dan berkerut, tanpa mengenakan dasi datang dan menghampiri para guru. “Rapikan dulu bajumu!” ucap sang guru sedikit tegas. Anak itu hanya mengangguk dan bergegas ke toilet terdekat. Setelah beberapa saat, ia menghampiri guru tersebut, “Bu,” ia merendahkan tatapannya, “maafkan saya.” Guru tersebut menatap matanya, penuh dengan keseriusan. Ia menghela napas, “Baiklah,” sekilas terlihat senyum kecil di bibirnya. Anak lelaki itu berlari girang, tanpa sadar akan guru yang terus menatap punggung kecilnya.

Cahaya sang surya melewati sela-sela pepohonan hijau, memberikan suasana hangat ke seluruh sudut ruangan. Dari kejauhan, sudah terdengar canda tawa diiringi suara gemersik angin pagi. Jam yang sudah berdentang 6 kali sejak fajar sekali lagi menunjukan suaranya. Sudah tujuh kali ia berdentang hari ini, setiap 60 menit sekali.

TENG!! TENG!!” suara tersebut terngiang sampai lantai tiga! Semua orang terhenti dari kegiatannya, memalingkan wajah mereka ke jam dinding di sudut ruangan. Hanya untuk memastikan waktu. Detik-detik selanjutnya diiringi hentak-hentakan kaki yang berlarian menuju kelas masing-masing.

* * *

          Keesokan harinya, hal yang serupa terjadi. Perbedaannya hanya jumlah murid dan guru. “Selamat pagi, Pak!” “Selamat pagi, Bu!” mereka tersenyum lebar sambil menyodorkan tangan mungil mereka. Tanpa pikir panjang, sang guru menjawab mereka dengan jawaban serupa. Sudah menjadi suatu ciri khas dan adat bagi keluarga besar SMPK 6 PENABUR untuk melakukan kegiatan rutin ini.

Ah, betapa bodohnya aku! Aku lupa untuk memberi tahu teman-teman pembaca tentang kegiatan ini! Kegiatan ini bernama 5S. Hmmm… terdengar tak asing? Sudah banyak poster dalam bermacam gambar, ukuran dan tulisan yang menjelaskan tentang 5S ini, loh!

 ***

                Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun atau biasa disingkat 5S ini sangat populer dan rutin dilaksanakan di kalangan pelajar. Sudah ada berbagai penerapan yang beragam di sekolah-sekolah. Tanpa disadari atau tidak, ternyata kita sudah secara spontan melakukan 5S ini loh! Kita sering sekali menyapa teman-teman sebaya kita, atau mungkin menyapa guru yang lewat.

Sayang, belakangan ini, budaya 5S ini mulai dilupakan penerus bangsa Indonesia.

Karena hal itu semua hanya hal sepele, tidak penting”.

Merepotkan banget! Kenapa harus nyapa sih? Kan nggak kenal!”

Kan malu-maluin banget kalo nyapa tapi nggak dijawab!”

Banyak sekali alasan serupa yang menyebabkan hilangnya budaya 5S secara perlahan, namun pasti. Banyak siswa yang menghiraukan guru, tidak menyapa mereka. Ada pula siswa yang hanya mau menyapa teman sebayanya, tidak menyapa orang yang lebih muda maupun lebih tua.

Oleh karena itu, sudah banyak sekolah yang berusaha untuk menerapkan 5S, untuk melestarikan 5S ini. Salah satu sekolah tersebut adalah SMPK 6 PENABUR. Terletak di tengah keramaian kota metropolitan, SMPK 6 PENABUR berinisiatif untuk melestarikan budaya 5S dan mengenalkan budaya tersebut pada para peserta didik. Tak ingin kalah dengan pesatnya pertumbuhan pergaulan bebas di kalangan pemuda Indonesia.

*  *  *

             “Halo, Pak!” ucap seorang siswa. Guru itu terhenti dari perjalanannya saat ia mendengar suara itu. Ia memutar tubuhnya dan melihat seorang siswa membawa tas jinjing yang tampak sangat berat itu. Hati-hati agar tidak menjatuhkan buku-buku yang ia bawa, ia berkata,

Halo, Irfan,” ia tersenyum sebelum ia bertanya lagi.

Kenapa tasmu terlihat berat sekali? Mau bapak bantu?” Irfan menggelengkan-gelengkan kepalanya, tanda menolak tawaran baiknya tersebut. Setelah memberi tahu alasan mengapa tasnya sangat berat, ia segera berjalan cepat menuju ruang kelasnya.

Lalu guru itu melanjutkan lagi perjalanannya. Saat tiba di lantai dua, ia berpapasan dengan seorang murid bertubuh besar -lebih besar dari guru itu sendiri-. Siswa tersebut tidak berkata apapun, ia hanya lewat, bermuka masam. Entah disengaja atau tidak, murid itu menjatuhkan semua buku yang dibawa guru itu.

“…” tidak ada sepatah kata pun dari pelajar itu, ia hanya berjalan menjauhi sang guru malang itu.

Kamu! Kemarilah!”

Hah? Aku? Apa pula salahku? Kan kamu yang salah. Tidak lihat-lihat jalan”.  Ia terlihat malas, tak memperhatikan guru yang geram. Ia tidak tahu, bahwa orang dihadapannya adalah seorang guru. Ia hanya beranggapan orang yang di depannya sebagai seseorang yang lebih kecil darinya.

Setelah ia tahu siapa orang dihadapannya, pucatlah wajahnya. Namun terlambat sudah, kepala sekolah tiba dan menegur murid tidak sopan itu. Bel berbunyi panjang, mematahkan teguran panjang sang kepala sekolah.

*  *  *

             Ternyata oh ternyata, 5S tidak langsung diterima oleh para siswa. Ada yang berkata negatif  tentang 5S ini. Mereka berpikir bahwa 5S merepotkan, “Saya kurang suka. Sedikit memalukan. Saya harus bersalaman dengan lawan jenis dan itu membuat saya malu” ucap Patrick, seorang senior kelas 9C.

Ada pula pendapat lain, “Kadang merepotkan! Saat sedang buru-buru harus salaman, bisa-bisa telat masuk kelas, nih!” ucap Irene.

Tak sedikit siswa yang berkata demikian. Namun banyak pula yang berkata kebalikannya. “Bisa sosialisasi, jadi enak aja” ucap Christine kelas 7A. Dibalik semua keberhasilan dan ketekunan guru-guru, tetap saja ada siswa yang tidak mentaati dan memberontak dari peraturan yang sudah dibuat.

Ada banyak siswa yang tidak datang sebagai panitia 5S, kadang disengaja atau tidak. Itu membuat kegiatan 5S tertunda dan terhambat. Itu membuat usaha yang sudah dilaksanakan terbuang cuma-cuma. Sampai saat ini, para pelanggar diberi sanksi yang cukup berat, agar memberi efek jera. Namun tetap saja, ada beberapa siswa yang melanggar.

*  *  *

            “Kau mungkin dapat melakukannya jika mencoba. Tapi kamu tidak akan pernah bisa jika tidak mencoba” pernah ada pepatah yang berkata demikian. Kita tentu harus mencoba dan berusaha agar dapat melakukan sesuatu. Sama halnya dengan kegiatan 5S ini. Mungkin memang terlihat menyebalkan dan merepotkan. Namun menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dan istimewa dari apa yang kau bayangkan. (TIM/MM)

 

TIM JURNALISTIK SMPK 6 PENABUR