Dunia Mimpi

Dunia Mimpi

 

 

ditulis oleh :

Clairine Chrestella

Juara II Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional

MPK Indonesia

 

Aku lebih menyukai dunia mimpi. Setiap kali aku tertidur, selalu saja aku muncul di dunia itu lagi. Dunia mimpi memang indah. Di sana terdapat teman-teman yang setia, peduli, dan ramah, tidak seperti di dunia nyata. Dari kecil, aku selalu memimpikan hal yang sama dan mimpi itu selalu berkelanjutan. Setelah itu, pada saat terbangun, energiku terasa terkuras hingga habis. Di sana aku mengenal beberapa teman yang baik seperti Mor, Hatt, Losso, dan Gera. Sebelumnya, namaku adalah Rahel. Aku hanya mengenal satu wanita dalam dunia mimpi, yaitu Gera.

***

Suatu hari, aku dan sahabatku di dunia nyata yang bernama Gans duduk di taman sambil bercerita.

“Gans” panggilku.

“Ya?” jawab Gans.

“Aku ingin menceritakan sesuatu, percaya tidak percaya, ini adalah kebenaran.” kataku.

“Baiklah, jadi ada apa?” tanya Gans.

Jadi begini, dari kecil, aku selalu memimpikan hal yang sama dan terus berkelanjutan hingga sekarang. Aku bersahabat juga dengan orang-orang yang berada di dunia mimpi tersebut, awalnya aku takut.. tetapi lama-lama aku tidak ingin berpisah dengan mereka.” jelasku.

Gans terdiam sejenak dan terlihat dari raut wajahnya bahwa dia menanggapi hal ini dengan serius.

“Mungkin kamu harus melupakan teman -temanmu di dunia mimpi.” jawab Gans.

“Mengapa? Aku pikir kamu akan mendukungku.” jawabku.

“Terkadang harus ada hal-hal yang direlakan demi kebaikan.” jelas Gans.

Pada saat itu, aku sangat kecewa dengan temanku. Menurutku, ia tidak percaya dengan apa yang kukatakan dan ia menganggapku gila.

“Tetapi aku lebih menyukai dunia mimpi dibandingkan dengan dunia yang asli. Di sana aku mendapatkan banyak teman yang setia, peduli, dan ramah.” jawabku.

“Tetapi itu semua tidak nyata Rahel, aku takut.” jawab Gans.

“Apa yang kamu takutkan?” tanyaku.

“Kita berdua sudah bersahabat lama dan aku takut kamu akan meninggalkan dunia asli selamanya hanya karena kamu menginginkan hidup bahagia di dunia mimpi. Mereka tidaklah nyata!” kata Gans.

“Selain itu, aku takut akan kamu yang mulai kelelahan, tidakkah kamu sadar, bila kamu mempunyai dua kehidupan, otomatis engkau tidak mempunyai waktu untuk tidur.” balas Gans.

Gans benar, aku tidak pernah tidur hanya karena mempunyai dua kehidupan. Tapi di sisi lain, aku marah terhadap Gans karena ia seperti tidak ingin aku hidup bahagia.

“Mungkin sebaiknya aku pulang, aku tidak ingin kita berdua bertengkar hanya karena masalah ini.” balasku.

Tanpa menunggu Gans membalasku, aku langsung bergegas memanggil supirku. Aku memasuki mobil dan aku menoleh sebentar untuk melihat Gans. Aku memandanginya, dan saat itu mobilku langsung berjalan menuju rumahku.

***

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung tidur karena aku melihat berita yang mengerikan di televisi. Pemerintah telah menciptakan pil anti tidur agar pada saat tidur, otak tidak bekerja. Jadi, masyarakat akan tertidur dengan nyenyak dan dapat bangun dengan stamina tubuh yang kuat. Aku ingin sekali tidak meminum pil itu, tetapi pemerintah mewajibkan seluruh masyarakatnya untuk mengonsumsi pil itu.

Aku langsung bergegas ke kamarku untuk tidur. Dalam hatiku, aku berpikir untuk memberitahukan berita tersebut kepada teman-temanku di dunia mimpi. Mungkin mereka memiliki solusi atas permasalahan ini. Aku memejamkan mataku dan terbangun di sebuah kamar, kamarku di dunia mimpi.

***

Kamarku di dunia mimpi sangat indah. Aku langsung bergegas keluar kamar dan mencari kamar Gera. Setelah aku sampai di depan pintu kamar Gera, aku mengetuknya dan keluarlah seorang wanita cantik. Wanita itu tomboy dan gayanya seperti kaum barbar. Itulah Gera.

Aku langsung memeluknya dan ia membalas memelukku.

“Gera, ada hal penting yang harus kita bicarakan.” kataku.

“Hal yang paling penting adalah kamu kembali lagi kesini, ayo masuk!” balas Gera.

Aku mengikutinya masuk ke kamarnya. Aku sudah terbiasa dengan kamar Gera. Aku langsung duduk di sofa tanpa aba-aba Gera. Gera duduk di seberangku dan menyilangkan kakinya.

“Jadi, ada hal penting apa?” tanya Gera penasaran sambil meminum segelas teh panas.

“Jadi begini, di dunia asalku, pemerintah menciptakan pil anti mimpi. Bila aku mengonsumsi pil tersebut, aku tak akan bisa bertemu dengan kalian lagi. Seluruh masyarakat di daerah tempat asalku diwajibkan untuk mengkonsumsi pil tersebut.” Jelasku sambil memasang wajah cemas.

“Bagaimana dengan Mor? Apa ia telah mengetahui hal ini?” balas Gera sambil menyipitkan matanya.

Aku melupakan Mor. Mor adalah kekasihku. Dia pasti akan mendapatkan solusi agar aku tidak mengonsumsi pil tersebut.

“Aku lupa untuk memberitahu Mor..” balasku.

“Kalau begitu tunggu apalagi? Ayuk.” kata Gera.

“Ke mana?” balasku.

“Ke tempat kerja Mor.” kata Gera.

“Mor sudah mendapatkan pekerjaan? Menjadi apa?” tanyaku.

“Menjadi komandan tentara.” kata Gera.

Aku terdiam sejenak karena tidak mempercayai hal yang dikatakannya barusan. Gera langsung menarik tanganku untuk bergegas. Aku pun tersadar dan langsung mengikuti Gera.

***

“RAHELLLLLLL!”, teriak Mor dari jauh.

Aku langsung berlari dengan cepat dan memeluknya.

“Mor, aku datang kesini untuk memberitahukan hal penting di dunia asalku.” kataku.

“Hal penting apa?” tanya Mor sambil melepaskan pelukan.

“Jadi, dari dunia asalku, pemerintah menciptakan pil anti mimpi. Seluruh masyarakat di tempat asalku wajib mengkonsumsinya. Setelah mengonsumsi pil tersebut, aku tidak akan pernah bisa bertemu kalian lagi karena kalian tidaklah nyata.” jelasku.

“Apa yang kamu katakan? Kami bukanlah mimpi. Kami nyata.” kata Mor.

Aku menjadi lebih takut dari sebelumnya. Mor menganggap bahwa mereka nyata. Aku takut kalau Mor akan menahan ku di dunia ini agar aku tidak kembali ke dunia nyata. Aku masih ingin bertemu keluargaku dan sahabatku, Gans.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar aku dapat bertemu dengan kalian lagi?” tanyaku

“Aku tidak mempunyai ide, bagaimana dengan Mor?” balas Gera.

“Bagaimana kalau nanti pada saat dia kembali ke dunia nyata, saat pil tersebut telah dibagikan, ia tidak perlu mengkonsumsinya. Masukkan saja pil itu ke saku dan tidurlah. Setelah itu, minumlah pil tersebut di dunia ini agar ia dapat tinggal disini dengan bahagia.” kata Mor.

“Tapi bagaimana dengan keluargaku dan sahabatku? Aku tidak pernah mau meninggalkan mereka.” balasku.

“Itu semua terserah padamu, kamu lebih memilih mereka atau kami yang telah membuat hidupmu lebih bahagia?” kata Gera.

“Ini tidak adil, kupikir kalian adalah teman yang benar-benar setia, peduli, dan ramah. Tetapi, sekarang kalian menyuruhku untuk memilih di antara dua kehidupanku? Kalian sama saja seperti Gans.” balasku.

“Suka tidak suka, kamu harus memilih, bila kamu tidak memilih di antara dua kehidupan, kami menganggap  bahwa kamu telah mengkhianati kami.” kata Mor.

“Aku membutuhkan waktu untuk berpikir.” kataku.

“Baiklah, kamu hanya mempunyai waktu sampai jam enam sore. Pada saat itu, temui kami berdua di sini.” kata Mor.

Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku langsung bergegas pergi ke rumah dua temanku yang terakhir. Mungkin mereka berdua bisa membantu. Aku sampai di depan bangunan yang di dindingnya terdapat tulisan H&L. Aku mengetuk pintunya dan yang kulihat adalah Losso menggunakan pakaian santai.

***

“Hai Rahel.” sambut Losso.

“Hai Losso, aku kesini tidak untuk menyapamu.” kataku.

“Jadi kamu hanya ingin bertemu dengan Hatt?” balas Losso dengan muka cemberut.

“Tidak-tidak, aku datang kesini untuk menemui kalian berdua, tetapi aku datang kesini bukan hanya untuk menyapa kalian berdua.” jelasku.

“Jadi, da masalah apa Rahel? Silahkan masuk.” balas Losso .

***

Aku mengikuti Losso berjalan masuk ke sebuah lorong. Di lorong tersebut aku dapat melihat lukisan-lukisan hasil karya Hatt. Suasana di sana juga nyaman karena terdapat lantunan musik yang indah. Setelah melewati beberapa lorong, kami menemukan pintu  dan pada saat dibuka, ternyata ada ruang tamu didalamnya. Di sanalah aku dapat melihat Hatt yang tubuhnya sangat besar melebihi kursi yang didudukinya.

Ruang tamunya sangat luas. Di depan Hatt terdapat meja kayu yang diatasnya terdapat cokelat panas dan tumpukan buku. Penampilan Hatt sama seperti kembarannya, Losso. Bedanya adalah Hatt memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari Losso dan Ia menggunakan kacamata.

“Lama tak berjumpa Rahel!” sapa Hatt.

“Hai Hatt, bolehkah aku duduk?” tanyaku.

“Silahkan, ada masalah apa?” tanya Hatt.

Aku menceritakan semua kejadian dengan detail. Dimulai dari aku bertemu Gans sahabatku hingga menemui Hatt. Losso duduk disamping Hatt dengan memasang wajah yang serius. Sedangkan Hatt hanya tersenyum simpul setelah aku selesai menceritakan masalahku tersebut.

“Jadi, menurutmu kami berdua dapat menyelesaikan masalahmu?” tanya Hatt.

“Menurutku begitu, kalian adalah harapan terakhirku satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan ini.” kataku.

“Kami bukan orang terakhir yang dapat menjadi harapanmu Rahel.” balas Losso menggunakan wajah tersenyum.

“Aku tidak mengenal siapa-siapa lagi selain kalian, Mor, dan Gera. Kalian lah harapan terakhirku.” jawabku putus asa.

“Losso benar, kami bukan harapan terakhirmu. Kamu telah melupakan Seseorang. Mungkin Ia tidak berwujud, mungkin Ia tidak dapat membantumu dengan wujud langsung-Nya, tetapi Ia-lah kunci dari setiap permasalahan atau persoalan yang kita hadapi.” kata Hatt sambil membenarkan kacamatanya.

Pada saat itu aku baru menyadari bahwa aku melupakan sosok tersebut. Ia adalah Tuhan. Tuhan Sang Juruselamat manusia yang mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia.

“Aku tidak menyangka bahwa aku melupakan-Nya. Terima kasih Hatt dan juga Losso karena kalian telah mengingatkanku akan Tuhan.” Balasku dengan senyum.

“Sama-sama Rahel, tetapi menurutku apa yang dikatakan Gans benar. Demi kebaikan, kamu harus rela merelakan satu hal. Dan ada satu hal lagi. Ini tentang Mor.” kata Losso.

“Ada apa dengan Mor?” tanyaku heran.

“Pada saat Mor mulai menjadi komandan tentara kepercayaan negara, beberapa sifatnya mulai berubah. Ia mulai serakah dan lebih mementingkan dirinya dari pada orang-orang disekitarnya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kamu melepaskan Mor dan memilih kehidupan yang benar.” kata Hatt.

Hatt dan Losso benar. Ada yang berubah dari sifat Mor. Caranya menyelesaikan persoalanku terdengar serakah dan menyiksa pemikiranku.

“Nanti hal itu akan kupikirkan lagi, sekarang aku harus pergi untuk meminta petunjuk dari Tuhan. Tetapi aku tidak tahu kemana aku harus pergi.” kataku.

“Kamu dapat pergi ke Gereja di seberang rumah kami. Aku akan mengantarkanmu.” balas Losso.

***

Setelah berpamitan dengan Hatt, kami berjalan menuju lorong yang kami lewati tadi dan Losso mengantarkan ku ke bangunan seberang. Aku melihat Gereja. Gereja yang sunyi. Losso berhenti di depan pintu Gereja dan memandangku sambil tersenyum puas.

“Aku senang engkau dan Hatt mengingatkanku tentang Tuhan.” jawabku dengan senyum yang lebar sambil memandanginya.

Aku memeluk Losso dengan erat sambil menangis.

“Kamu tahu, aku dan Hatt tidak seperti Mor. Kami menyadari bahwa kami tidak nyata. Gera juga menyadari hal tersebut. Engkau harus berhenti bermimpi demi kebaikanmu Rahel.” kata Losso.

Aku bisa merasakan bahwa Losso sedang menangis. Losso melepaskan pelukannya dan tersenyum kembali menghadapku. Aku melihat tangannya yang sedang memegang sesuatu.

“Ini, simpanlah pulpen ini.” kata Losso sambil memberikanku sebatang pulpen.

“Relakanlah.” Katanya sambil menundukan kepalanya.

Setelah Losso melakukan hal tersebut, ia langsung pergi tanpa menolehkan kepalanya. Sedangkan aku masih berdiri di depan pintu Gereja sambil menangis. Otakku dipenuhi  dengan Losso dan Gans yang mengatakan “Relakanlah.” Aku memasukan pulpen tersebut ke saku celanaku. Setelah itu, aku pun mendorong pintu gereja dan berjalan dengan tenang ke salah satu kursi.

***

“Dia tidak dapat membantumu jika kamu tidak menceritakan masalahmu terhadap-Nya.” kata seorang Kakek tua yang sedang duduk di sebelahku tanpa kusadari.

“Dia pasti sudah mengetahui semua permasalahanku. Aku tidak mengerti, apa yang harus kuperbuat untuk menyelesaikan masalahku.” balasku.

“Mungkin sebenarnya Ia telah membantumu. Tetapi, engkau tidak menyadari bahwa Ia telah membantumu. Tuhan selalu membantu setiap permasalahanmu dengan caranya sendiri. Misalnya, dengan menciptakan orangtuamu.” jelas Kakek tersebut.

“Ada apa dengan orangtuaku?” tanyaku.

“Tuhan menciptakan orangtuamu untuk menjagamu, melindungimu, dan membimbingmu ke jalan yang benar. Itu salah satu bantuan yang diberikan Tuhan.” jawab Kakek tersebut.

Aku berpikir sejenak. Aku berpikir, apakah Tuhan telah membantuku untuk memilih antara dua kehidupanku? Aku berpikir sambil menundukan kepalaku. Aku tidak mengetahui sudah berapa lama aku menunduk hingga aku menyadari suatu hal. Tuhan telah membantuku. Aku pun mengangkat kepalaku dan hendak mengucapkan terima kasih terhadap Kakek tersebut. Tetapi yang kulihat hanyalah aku yang sedang duduk sendirian. Aku tidak melihat Kakek tua yang telah menyadarkanku.

Tiba-tiba jam dinding di gereja berbunyi. Aku melihat jam dan aku terkejut. Sekarang sudah jam enam sore. Aku harus bergegas menemui Mor.

***

Gera sudah menungguiku di depan gerbang masuk. Kami berjalan melewati tentara-tentara yang sedang berlatih. Gera mengantarkanku ke sebuah ruangan. Aku membuka pintu ruangan tersebut dan di dalamnya terdapat Mor yang sedang duduk di atas meja kerjanya sambil memainkan sebuah rubik.

“Kamu telah terlambat tiga menit.” kata Mor.

“Itu tidak masalah, yang penting sekarang adalah aku sudah tau apa yang harus aku lakukan.” jawabku sambil menatapnya dengan tajam.

“Dari awal aku sudah tahu bahwa kamu akan mendengarkan rencanaku. Semua orang yang mempunyai masalah selalu mengikuti rencanaku.” balas Mor dengan bangga.

Aku melihat adanya kesombongan di wajah Mor. Aku juga melihat bahwa Gera tidak setuju dengan apa yang Mor katakan.

“Tidak. Aku tidak akan mengikuti rencanamu itu.” bantahku.

Aku dapat melihat wajah Mor yang tadinya bangga berubah menjadi cemberut. Ia langsung berhenti memainkan rubiknya dan menatapku dengan serius.

“Aku akan mengikuti rencana Tuhan.” kataku dengan tegas.

“Apa?!” tanya Mor.

“Tuhan sudah membantuku untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi aku akan mengikuti rencana Tuhan. Tuhanlah yang mengatur agar pemerintah menciptakan pil anti mimpi agar aku dapat meninggalkan dunia mimpi. Tuhan membantuku agar hidupku lebih bahagia dari kebahagiaanku di dunia mimpi. Tuhan sudah mencoba menyadarkanku lewat Gans, Hatt, dan Losso.” jelasku.

“Sepertinya ada yang berubah dari sifatmu.” kata Mor.

“Bukan aku yang berubah, engkaulah yang berubah Mor. Terima kasih karena engkau sebelumnya sudah menjadi teman dan kekasih yang baik bagiku. Aku harus pergi. Dunia ini tidaklah nyata.” kataku terhadap Mor.

Mor hanya diam saja. Ia menyadari bahwa sifatnya telah berubah.

“Sekarang aku harus pergi, aku harus menjalani hidupku dengan normal di dunia nyata.” balasku sambil gemetar.

“Jangan lupakan kami ya.” kata Gera dengan senyumnya.

“Aku tidak akan pernah melupakan kalian.” balasku sambil menangis.

***

Aku mengusap air mataku dan memejamkan kedua mataku sambil tersenyum. Dunia disekitarku kembali gelap dan aku kembali ke kamarku di dunia nyata. Tiba-tiba aku mendengar bunyi ketukan pintu. Ibuku masuk dengan tersenyum. Aku bisa melihat ia sedang membawa sebuah pil dan segelas air putih. Inilah saatnya.

“Engkau tahu nak, engkau harus meminum pil ini demi kebaikanmu.” jelas ibuku sambil memberikanku pil tersebut.

Ibuku tahu bahwa aku mempunyai dua kehidupan. Aku sering menceritakan kehidupanku di dunia mimpi kepadanya. Ia selalu mengeluarkan ekspresi khawatir pada saat aku bercerita.

Aku kembali mengeluarkan air mata dan aku menelan pil itu. Ibuku memelukku dan ia berkata, “Relakanlah.”

Aku tersenyum sambil menangis dan tanpa kusadari, aku tertidur. Aku tertidur dengan lelap tanpa mimpi dan saat aku terbangun, aku menyadari bahwa hal yang kualami selama ini  adalah berkat karunia dari Yang Maha Kuasa.

Seketika itu juga, aku teringat akan pulpen yang diberikan Losso kepadaku. Aku beranjak ke meja tulisku dan memulai untuk menulis tentang dunia mimpi.