LIVE IN 2015

PENGALAMANKU IKUT LIVE IN

(23-25 Maret 2015)

 

– Hari Pertama –

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah.  Matahari belum sepenuhnya terbit waktu itu, udara segar masih terasa.  Aku menikmati suasana ini meski barang-barang yang kubawa cukup berat.  Aku tersenyum menemukan teman-temanku yang sudah berkumpul di pinggir lapangan sana.  Mereka menyapaku dengan senyuman yang sama.  Aku tahu mereka sama semangatnya sepertiku.  Aku menaruh tasku dan duduk bersama sahabatku.  Kita bertukar pikiran tentang desa itu. Bagaimana ya nanti? Aku terus duduk disana dan merasakan pagi di Jakarta sampai Guruku memanggil.

Aku dan teman-teman langsung menyiapkan barang kami dan berbaris.  Kita semua semangat disitu, aku ingat betapa antusiasnya mereka saat itu. Aku berjalan menuju bus dan mengambil tempat.  Bus mulai bergerak dan kita pun berdoa agar perjalanan kami dilindungi. Aku melihat keluar jendela dan mengobrol dengan teman-temanku. Walaupun jalanan sempat macet, tapi perjalanan kita tidak disertai halangan yang berarti. Kita terus bercanda hingga lelah dan tertidur.

Aku membuka mata karena teman-teman sudah mulai berisik. Aku perlahan melihat cahaya yang masuk lewat jendela bus dan melihat papan selamat datang. “Selamat datang di Indramayu” begitu yang kubaca.  Kita semua langsung beralih ke jendela untuk melihat Indramayu.  Disini tidak ada gedung tinggi seperti di Jakarta, disini jarang ada mobil.  Aku menyesuaikan pandanganku dari terik matahari dan melihat perkebunan yang sangat luas.  Aku melihat anak-anak yang bermain-main bersama temannya sambil memakan es potong.  Sepertinya mereka bahagia walaupun hanya seperti itu, sederhana.

Kita sampai di desa Tamiyang.  Aku menyiapkan barang-barangku dan turun dari bus.  Kita langsung memasuki gereja di sana.  Kita mendengar kata sambutan dari ketua majelis di sana.  Mereka menyambut kita dengan sangat baik.  Setelah sedikit briefing, kita semua makan bersama di gereja.  Kita semua sudah ditentukan akan tinggal bersama keluarga siapa.  Aku sangat penasaran, bagaimana orangtua asuhku ya? Aku dan teman serumahku berjalan menuju rumah orangtua asuh kita.  Aku sedang berjalan dan melihat beberapa hal yang menarik.  Aku menyadari bahwa gereja berada tepat disamping masjid, itu menandakan kerukunan antar agama yang terjalin baik disini kurasa.  Aku juga menarik kesimpulan bahwa warga disini sangat ramah.  Aku akhirnya sampai di rumah pak Sukardi, orangtua asuhku.

Aku memasuki perkarangan rumah Bapak yang dipenuhi padi itu.  Aku dan temanku mengetuk pintu dan melepas sepatu.  “Ini tidak buruk”, pikirku. Bapak dan Ibu asuhku sudah tua.  Ibu dan Bapak menunjukkan kamar kami dan kemudian kami membereskan barang.  Aku dan temanku duduk di ruang tamu dan mengobrol dengan Ibu.  Ibu menceritakan tentang anaknya, cucunya, pengalamannya, dan desa ini.  Aku mulai tersentuh ketika Ibu mengambilkan kita makanan, tangannya sudah bergetar.  Aku cepat-cepat membantunya. Temanku juga menyadari kalau rumah Ibu sangat kotor, mungkin Ibu sudah tidak bisa lagi membereskannya.  Setelah aku dan temanku memikirkan hal yang sama, akhirnya kami menyapu dan merapihkan rumah Ibu.  Debu di rumah Ibu sangat banyak, harusnya orang tua seperti Ibu tidak boleh menghirup debu seperti ini lagi.

Setelah rumah Ibu cukup bersih, aku mengobrol lagi dengannya.  Ia mengajak kita makan, aku awalnya bingung siapa yang memasak.  Tapi ternyata, Ibu walaupun sudah tua tetap bisa memasak masakkan yang enak.  Walaupun makanan ini terlalu asin untukku dan temanku, kita tetap memakannya.  Memang begitu yang dipesankan guru kami, kita tidak ingin Ibu kecewa bila kita tidak memakannya.  Hari ini tidak ada kegiatan lama di gereja, kami hanya membuat telur asin sebentar setelah itu boleh kembali ke rumah.  Hari sudah menjelang sore dan aku segera mandi.  Setelah aku dan temanku selesai mandi, Ibu mengajak kami makan malam.

Setelah makan malam, aku dan temanku berkunjung ke pasar malam disana.  Pasar malam cukup ramai, aku menyukainya.  Setelah hari semakin malam, aku dan temanku pulang.  Kita pamit pada Ibu untuk tidur karena sudah sangat lelah.  Disini sangat panas, kasurku juga tidak terlalu bersih.  Tapi aku memang ingin merasakan kesederhanaan.

 

– Hari Kedua –

Aku terbangun jam 5 pagi ini.  Aku dan teman sekamarku keluar kamar.  Kita sarapan dan meminum susu cokelat, aku sangat menikmati kesederhanaan ini.  Setelah sarapan, kita berjalan pagi di sepanjang desa.  Hari ini aku merasakan angin pagi di lain tempat, bukan di Jakarta.

Jalanan disini berbatu tidak rata dan lurus.  Aku kembali kerumah dan mengobrol dengan Ibu.  Setelah itu, aku mandi dan berkumpul di gereja.  Hari ini aku akan mengajar di SD.  Memang ada sedikit masalah, sekolah yang seharusnya kami kunjungi berhalangan jadi kami harus naik bus cukup jauh ke SD Penabur Jatibarang.  Kami akhirnya sampai di sini.

Aku turun dan melihat sekitar sekolah, aku tersenyum pada anak-anak disana. Kami disambut dengan baik disini.  Setelah 15 menit kami menyiapkan pengajaran, akhirnya kami siap.  Aku dan teman sekelompokku memasuki kelas yang akan kami ajar.  Kami disambut baik dikelas itu.  Kami pun mulai mengajar.  Awalnya, murid-murid masih malu-malu tapi setelah kami mengadakan quiz, mereka mulai antusias.  Aku sangat senang melihat antusiasme mereka.  Kami memiliki waktu yang sangat baik disana.  Aku mulai akrab dengan beberapa anak disana, begitupun teman-temanku.

Banyak hal yang kutemukan disini, dari mulai kelasku dan kelas teman-temanku yang lain.  Setelah kami selesai membagikan kenangan, kami pulang kembali ke desa Tamiyang.  Sebelum sampai ke Desa, kami sempat mampir ke rumah makan Pringsewu untuk makan siang, kami pulang setelahnya.  Setelah sampai, kami diajarkan membuat tape dan berkunjung ke sawah.  Aku sangat menikmati waktu ini.  Setelah hari sudah mulai sore, aku pulang kerumah Ibu.  Aku bergegas mandi dan menemani Ibu makan malam.  Aku mulai mengantuk setelah hari yang lelah ini.  Aku dan temanku pun pamit untuk tidur.

 

– Hari Ketiga –

Hari ini aku pulang”, ingatku dan langsung terbangun.  Setelah membangunkan temanku, kita sarapan dan berolahraga di depan.  Aku berjalan sambil merentangkan ototku yang pegal.  Ini terakhir kalinya aku bisa menikmati pagi disini.  Aku dan temanku pulang dan membereskan barang-barang.  Aku keluar dan bergegas mandi.  Setelah mandi aku langsung mengepak barang-barangku.  Setelah semuanya beres, aku keluar dan menemukan Ibu.

Ibu tahu hari ini kita pulang.  Ibu menyuruh kami membawa pisang dan rambutan untuk oleh-oleh.  Aku sedih harus berpisah seperti ini dengan Ibu.  Aku merasa waktu berjalan dengan sangat cepat.  Sepertinya baru tadi aku berkenalan dengan Ibu dan Bapak dan sekarang sudah harus berpisah.  Ibu memberi kami pesan dan sedikit nasihat.  Aku sangat sedih tidak bisa bertemu Ibu lagi.

Akhirnya kami berpamitan dan aku pun berjalan ke gereja.  Di gereja, kami makan bersama dan menunggu semuanya datang.  Setelah puas menikmati makanan terakhir disini, kami mendengarkan kata perpisahan dari ketua majelis gereja disana.  Akhirnya kami naik bus dan berdoa kembali agar perjalanan kami disertai.  Aku cukup lelah karena aku hanya bisa tertidur sebentar tadi malam dan kemarin, jadi aku tidur di bus.

Aku sangat menikmati acara Live In ini.  Aku menyukai desa Tamiyang, kesederhanaannya, keramahan warganya, dan kerukunan yang ada dalam desa itu.  Aku juga sangat menyukai acara yang ada seperti mengajar di SD, dan lainnya.  Aku benar-benar memiliki waktu yang menyenangkan disini.  Walaupun aku kangen pada rumahku, aku tetap sedih harus pulang dan meninggalkan desa Tamiyang.  Ini sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. (AAA/MM)

 

Viola Audy

Siswi Kelas 8C