Pembinaan Guru dan Karyawan SMPK 6 PENABUR

Menyadari Potensi Guru dan Bagaimana Memaksimalkannya:

Pembinaan Guru dan Karyawan SMPK 6 PENABUR

di awal Semester 2

Dikisahkan bahwa Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nisada.  Kaum ini adalah kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu.  Ekalaya bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada bhagawan guru memanah terkenal, Drona.

 

Namun niatnya ditolak.  Drona tahu kemampuan Ekalaya bisa menandingi Arjuna.  Sementara itu Drona sudah berjanji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya ksatria pemanah paling unggul di jagat raya.  Jelas ini merupakan sifat negatif dari Drona; pilih kasih.  Konon Drona sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

 

Penolakan sang guru tidak menghalangi niat Ekalaya untuk memperdalam ilmu memanah, ia kemudian kembali masuk hutan dan membuat patung Drona.  Ekalaya memujanya dan menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru.  Dia belajar memanah sendiri dihadapan patung sang guru.  Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalaya mempunyai kecapakan yang luar biasa dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona.

 

Suatu hari secara kebetulan Ekalaya bertemu dengan Drona.  Sebelumnya Ekalaya mengaku sebagai murid Drona.  Ketika bertemu dengan Drona, Ekalaya langsung menyembah hormat kepada Drona seperti layaknya murid yang berbakti kepada guru.  Tetapi Drona marah.  Drona sebelumnya sudah tahu bahwa kemampuan Ekalaya menyamai atau bahkan melampaui Arjuna.  Drona pun panik, karena cita-citanya untuk membuat Arjuna menjadi pemanah yang terhebat di jagat raya terancam gagal.  Maka Drona pun bilang ke Ekalaya bahwa bila memang Ekalaya menganggap Drona sebagai gurunya, maka dia harus mau mengabulkan permintaannya.  Dan Drona meminta Ekalaya memotong ibu jari kanan tangannya.

 

Walaupun Ekalaya tahu dengan melakukan hal tersebut dia akan kehilangan kemampuan memanahnya, tanpa ragu Ekalaya melakukannya.  Dia sungguh menghormati Drona sebagai gurunya.

 

Begitulah cerita Ekalaya dalam Mahabharata.  Sebuah cerita yang cukup tragis menurut saya.  Pesan dari cerita itu? Silakan para pembaca yang memikirkannya. Bisa juga tentang ketekunan murid, bakti murid kepada guru, murid yang kurang bijak, atau kalau mau lebih keren bisa juga menggunakan Bahasa Inggris “when there is a will, there is a way”, atau bisa juga pesan-pesan lain, silakan pembaca memikirkannnya.

 

Tetapi menurut saya, cerita tersebut juga menggambarkan bagaimana pengaruh seorang guru kepada muridnya.  Ekalaya sangat ngefans dengan Drona.  Walaupun ditolak, dia membuat patung guru pujaannya tersebut dan berlatih sendiri dengan membayangkan bahwa dia diajari oleh Drona.  Rasa kagumnya terhadap gurunya membuatnya berlatih terus menerus dan membuat dia menyamai bahkan melebihi Arjuna yang diajar langsung oleh sang guru. Bahkan ketika Drona meminta Ekalaya memotong ibu jarinya pun Ekalaya melakukan.  Karena Ekalaya sunguh hormat kepada Drona yang dianggap gurunya.

 

Memang guru bisa memberi efek—baik positif atau negatif—yang sangat besar kepada murid-muridnya. Dari Alexander Agung, Hellen Keller, bahkan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pun konon sempat diberi encouragement oleh gurunya ketika mengungkapkan cita-citanya mau terjun ke politik. (Kita pun pasti sebenarnya mempunyai guru-guru yang berkesan dan berpengaruh bagi kita)

 

Sayangnya guru kadang tidak menyadari betapa besar pengaruhnya tersebut. Kadang mereka menjadi role model yang kurang bagus atau pun menggunakan kata-kata atau gesture  yang kurang pas, sehingga alih-alih mengakibatkan pengaruh positif, malah membuat pengaruh negatif.  Dan ini sangat berbahaya sekali.  Karena murid-murid yang diajar beberapa tahun ke depan menjadi para pemimpin negeri ini, pengambil kebijakan, kepala keluarga, bos perusahaan, pegawai yang disegani, dan orang-orang yang menentukan lain.  Nah, kesalahan mindset atas guru mereka ketika sekolah akan fatal kan?

 

Menyadari hal tersebut SMPK 6 PENABUR mengadakan pembinaan guru yang diadakan pada tangal 8 Januari 2015.  Acara yang bertempat di perpustakaan SMPK 6 PENABUR ini bertema “Berbuatlah Seperti untuk Tuhan”.  Pendeta L.Z. Raprap sebagai pembicara menjelaskan bagaimana guru-guru SMPK 6 PENABUR harus bekerja (mengajar) sebaik-baiknya—seperti untuk Tuhan.  Beliau mengatakan bahwa guru-guru harus mengajar dengan berkualitas dan benar (correctly), sukacita (cheerfully), dan bersyukur (gratefully).

 

Para guru SMPK 6 PENABUR terlihat sangat antusias mengikuti acara tersebut. Ketika berlangsung sesi Tanya jawab pun, banyak guru yang mengangkat tangan untuk bertanya, menanggapi, atau sharing tentang pengalamannya mengajar dan mendidik murid.

 

Jadi ingat kutipan yang mengatakan kurang lebih: mediocre teachers tell, good teachers demonstrate, great teachers inspire.

 

Semoga guru SMPK 6 PENABUR semakin bisa menjadi great teachers seperti kutipan di atas, dan bukan malah seperti Drona dalam cerita Ekalaya yang sudah menginspirasi, tetapi kemudian malah menyesatkan (AAA/MM).