Belajar Menghargai Orang Lain dan Diri Sendiri di Leadership Camp

Belajar Menghargai Orang Lain dan Diri Sendiri di Leadership Camp 

 

Pagi itu Sheren bangun tidur dengan lebih bersemangat dari biasanya.  Hari itu dia akan mengadakan Leadership Camp ke Bandung.  Peserta didik kelas 7 SMPK 6 Penabur tersebut sudah tidak sabar menantikan kegiatan tersebut.  Beberapa hari sebelumnya dia mengungkapkan antusiasmenya pada kegiatan yang akan berlangsung tiga hari itu di social media, seperti Path. Di social media tersebut dia menghitung mundur hari dilaksanakannya kegiatan tersebut. Dia menulis “H-3”, kemudian hari berikutnya “H-2”, dan hari berikutnya“H-1.”

“Saya ga sabar ingin ikut Leadership Camp,” kata Sheren.

Mungkin tidak semua anak seantusias Sheren dalam menantikan kegiatan tersebut. “Saya penasaran dengan kegiatan ini, tetapi males packing,” kata Jessie, peserta didik kelas 7 SMPK 6 Penabur.

Pagi itu, Rabu (22 Oktober 2014), peserta didik kelas 7 SMPK 6 Penabur berangkat ke Bandung untuk  mengikuti kegiatan karyawisata dan Leadership Camp. Para peserta didik terlihat ceria, mereka mengenakan kaos berwarna merah dengan tulisan ‘Leadership Camp P6’ di bagian dada kiri mereka.

Leadership Camp tahun ini menggunakan sistem mentoring. Para peserta didik kelas 7, yang berjumlah 149 anak, dibagi dalam 10 grup.  Masing-masing grup mempunyai satu guru sebagai mentor mereka.  Satu grup terdiri dari 14 sampai 16 siswa.  Beberapa hari sebelum hari H, para mentor harus sudah tahu para peserta yang dimentorinya, juga para peserta harus sudah tahu siapa mentornya dan siapa anggota kelompoknya.

Para mentor diharapkan menjadi panutan bagi para anggotanya.  Diharapkan hubungan yang positif terjalin antara mentor dan anggotanya, sehingga para peserta didik merasa aman secara psikologis.  “Diharapkan ketika kita mendapatkan hatinya, anak akan mudah dibentuk,” kata Pak Manatar, ketua bidang bagian acara, ketika memberikan briefing kepada para mentor.

“Setiap aktivitas dilakukan bersama-sama dengan mentor dan teman sekelompok, kecuali, tentu saja, tidur dan ke kamar mandi,” tambah Pak Manatar.

Para mentor dihimbau membuat peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dalam kelompok. Dan disepakati konsekuensi (hukuman) yang tegas bagi pelanggar aturan.  Ketegasan mentor juga diwajibkan di kegiatan tersebut.  Tentu saja, peraturan-peraturan yang ketat dalam kegiatan Leadership Camp juga ada, beserta hukuman bagi yang melanggarnya.

Tema dari kegiatan Leadership Camp tahun ini adalah “Respect Others and Yourself”. Ideal outcome yang diharapkan adalah peserta didik bisa menghargai orang lain, seperti orang tua, guru, saudara, teman, diri mereka sendiri, lingkungan, dan juga Tuhan.  Hal ini dapat dilihat dari hal-hal yang sederhana, misalnya kemampuan untuk mengucapkan “terima kasih, maaf, tolong”, membuang sampah di tempatnya, memakai seragam dengan baik, mendengarkan guru, mengerjakan PR tepat waktu, dan bersikap sopan terhadap sesama.

Para peserta didik kelas 7 ke Bandung dengan tiga bus besar.  Rombongan meninggalkan sekolah pukul 7.00 WIB.  Tujuan pertama mereka adalah Museum Geologi, Bandung. Rombongan sampai di Museum Geologi sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian mereka berbaris dengan rapi sesuai dengan kelompoknya—didampingi mentornya masing-masing—untuk antri masuk ke dalam museum yang terletak di Jalan Diponegoro, Bandung.

Para peserta didik memasuki museum yang bergaya art deco tersebut dengan sopan, walaupun mereka tidak bisa menahan raut wajah ingin tahu akan isi museum.  Di dalam museum sudah menunggu para guide yang segera menjelaskan koleksi museum.  Para peserta mendengarkan penjelasan dari guide, melihat isi museum, membaca  tulisan-tulisan yang tertera di bawah setiap koleksi, mencatatnya, dan mengambil foto koleksi.  Mereka juga sibuk mengisi soal-soal di lembar kerja (worksheet) tentang Museum Geologi yang sudah dibagikan panitia sejak dari sekolah.  Soal-soal tersebut akan dikumpulkan untuk memenuhi syarat nilai mata pelajaran IPS dan Biologi.

Di museum yang dibangun oleh arsitek Belanda Ir. Menalda van Schouwenburg pada tahun 1928 ini peserta didik belajar tentang fosil, manusia purba, zaman pra-sejarah, fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, juga batuan dan mineral sekaligus produk-produk yang dibuat dari mineral. Peserta didik juga menonton film yang sangat menarik tentang perjalan permukaan planet Bumi, yang ternyata berubah dari waktu ke waktu.

Sehabis kegiatan itu para peserta berfoto di depan museum.

Peserta didik melanjutkan kegiatan ke Jendela Alam yang beralamat di JL. Sersan Bajuri KM 4, 5, Komplek Graha Puspa, Lembang, Jawa Barat.  Para peserta didik belajar banyak hal tentang alam di Jendela Alam.  Mereka dikenalkan dengan berbagai jenis binatang dan tumbuhan. Mereka melihat berbagai macam binatang seperti rusa, kuda poni, kelinci, kambing, phyton albino, dan sugarglider, bahkan mereka juga bisa memegang binatang-binatang tersebut. Mereka dikenalkan dengan berbagai tumbuhan-tumbuhan obat, juga tentang teknik menanam hidroponik.

Peserta didik riang ketika mereka memetik tomat cherry dikebun hidroponik yang bebas pestisida.  Beberapa terlihat bahagia memetik tomat cherry tersebut, beberapa takut-takut. “Takut ada laba-laba,” kata salah seorang anak.

Tempat terakhir yang dituju adalah Cikole Jayagiri Resort, Lembang.  Di tempat yang berada di kawasan gunung Tangkuban Perahu itu para peserta didik akan menjalani Leadership Camp selama dua hari berikutnya.

Para peserta sampai di Cikole sore hari sekitar jam 5 sore.  Mereka pun segera mengikuti kebaktian pembuka.  Di sesi tersebut, Pak Raiders, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMPK 6 Penabur, menjelaskan tujuan kegiatan Leadership Camp tersebut dan peraturan-peraturan yang harus ditaati.  Sesudah itu mereka dibagikan kunci kamar masing-masing, dipersilahkan mandi, kemudian makan.

Sesi yang berkesan di malam hari pertama adalah ketika sesi malam Respect Others and Yourself dan refleksi malam.  Di sesi tersebut, peserta menonton film The Butterfly Circus.  Film pendek yang dibintangi Nick Vujicic tersebut sungguh bagus.  Mengajarkan betapa banyak hal penting untuk disyukuri, dan mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyerah.

Di sesi refleksi dijelaskan bahwa semuanya berasal dari diri sendiri.  Leadership pada mulanya adalah memimpin diri sendiri.  “Kita harus menyadari bahwa kita berharga, jadi kita harus menghargai diri kita sendiri.  Ketika kita menghargai diri kita sendiri, maka kita akan menghargai orang lain dan sesama,” kata seorang mentor.

“Kalian layak bersyukur karena punya kesempatan bersekolah, terlebih di sekolah seperti Penabur,” tambahnya.

Di hari kedua, para peserta didik melakukan hiking, ada 10 pos di kegiatan yang berlangsung selama empat jam tersebut.  Derai tawa, teriakan riang, dan nyanyian gembira para peserta didik terdengar selama mereka melakukan permainan-permainan di pos.

Para mentor menjelaskan makna setiap permainan yang sudah mereka lakukan di pos.

Sesi malam hari kedua juga merupakan sesi yang menarik karena ada renungan tentang orang tua.  Isak tangis para peserta terdengar di sesi tersebut.  Pak Manatar mengantar sesi tersebut dengan bantuan lagu “Bunda” dari Melly Goeslaw.  Pada sesi tersebut, peserta diajak mengenang cinta orang tua mereka dan apa yang sudah mereka lakukan ke peserta.

Refleksi malam menggeser sesi renungan tentang orang tua dengan lembut.  Para mentor secara perlahan masuk dalam kelompok yang sudah duduk melingkar.  Para mentor mengajak para peserta merenungkan apa yang sudah mereka pelajari hari tersebut, khususnya pada sesi renungan tentang orang tua.  Mereka dibagikan kertas; mentor memberi pertanyaan-pertanyaan yang memfasilitasi peserta berpikir tentang cinta orang tua mereka, juga akan yang sudah/ sebaiknya mereka lakukan untuk merespon cinta tersebut, para peserta didik menuangkan pikiran mereka dalam kertas tersebut.

Di malam hari kedua, para peserta didik tidur dengan sangat nyenyak, karena kecapekan hiking dan renungan plus refleksi yang emosional.

Hari ketiga, sekaligus hari terakhir di tempat tersebut, para peserta didik bangun pagi, kemudian olah raga yang dipandu Pak Raiders.  Mereka dengan bersemangat senam sambil menyanyi “Marina Menari”.  Sesudah itu mereka mandi, kemudian sarapan.

Sesi yang ditunggu hari ketiga ini adalah Talent Show.  Sesi ini adalah saat di mana para peserta menunjukkan bakatnya.  Mereka menunjukkan apa yang sudah mereka siapkan selama itu.  Di Talent Show, para peserta menampilkan yang terbaik yang mereka bisa.  Berbagai kegiatan ditampilkan dari menyanyi, menari, drama, ansamble dan cup song (memainkan lagu dengan gelas plastik), dan juga kombinasi dari performance tersebut.  Para peserta didik terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Sesi terakhir sebelum para peserta meninggalkan Cikole Jayagiri Resort adalah kebaktian penutup yang dipimpin oleh Bu Reri, guru agama Kristen SMPK 6 Penabur, dan sambutan penutup oleh Pak Raiders.

Pak Raiders memberikan nasehat bahwa semoga yang para peserta dapatkan di kegiatan tersebut jangan terus hilang begitu saja.  Beliau bilang bahwa semangat mereka sekarang harus selalu bawa di sekolah.  Pak Raiders juga mengajak peserta untuk mengucapkan janji “Respect Others!” sambil mengepalkan tangan kanan di dada.  Peserta bersemangat meneriakkan “Respect Others!” berkali-kali.

Sehabis itu para peserta menuju bus dan kembali ke Jakarta.  Para peserta sampai di SMPK 6 Penabur sekitar jam 20.30.  Perjalanan lumayan lama karena macet yang lumayan parah.

Leadership Camp 2014 mempunyai beberapa kekurangan, seperti jadwal yang molor, peserta didik yang susah dikendalikan dan indikator kesuksesan kegiatan yang tidak begitu kelihatan. Tetapi ada juga beberapa sisi positif yang ternyata disadari oleh peserta didik.

Beberapa hari sesudah kegiatan tersebut, Sheren berkomentar bahwa kegiatan tersebut enak, tapi kurang lama.  “Kita diajari memikirkan orang lain,” katanya ketika ditanya apa yang didapatnya di kegiatan tersebut.

Sementara itu beberapa peserta didik mengungkapkan pendapat yang senada.  “Saya belajar untuk respect others, bekerja sama, dan disiplin,” kata Juano.  “Kita diajari untuk menerima keadaan dan menghargai orang lain,” sambung Melvin.  “Enak, tapi capek, dan bangunnya terlalu pagi,” tambah Jessie, “saya belajar menerima kekalahan di sana.”

Salah seorang Ibu dari peserta didik mengungkapkan terima kasihnya karena anak kesayangannya mulai mau terbuka dan berkomunikasi kepadanya sesudah dari Leadership Camp.

Membimbing anak dan membentuk karakter memang tidak bisa instan—dilakukan dalam tiga hari, tetapi beberapa testimoni di atas kiranya menumbuhkan harapan bahwa hal tersebut bisa dilakukan.  Yang perlu kita (guru dan orang tua) lakukan bersama adalah saling bekerja sama untuk mewujudkan hal tersebut. (AAA, PD)